olik

olik

Jumat, 20 Agustus 2010

Pendidikan Gender

BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian
Gender sendiri merupakan pelabelan atas laki-laki dan perempuan. Kontruksi ini tidak lagi membedakan laki-laki dan perempuan atas perbedaan seks yang dimiliki. Dasar sosialisasi ini secara kuat telah membentuk ideologi gender, melalui kontruksi sosial yang melembaga. Misalnya, perempuan dikenal lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa, jantan.
Gender merupakan konstruksi sosial yang membedakan peran dan kedudukan wanita dan pria dalam suatu masyarakat yang dilatarbelakangi kondisi sosial budaya. Gender juga memiliki pengertian sebagai konsep hubungan sosial yang membedakan fungsi dan peran antara lelaki dan perempuan. Gender merupakan hasil pemikiran atau rekayasa manusia yang biasanya menghambat kemajuan perempuan.
Perempuan dikontruksikan sebagai makhluk yang perlu dilindungi, kurang mandiri, tidak rasional, hanya mengandalkan perasaan, dan lain-lain. Konsekuensinya, muncul batasan-batasan yang menempatkan perempuan pada ruang penuh dengan aturan baku yang perlu dijalankan. Padahal, banyak sisi positif dari perempuan yang membedakannya dengan laki-laki dan jarang diekspos. Yaitu watak dan karakter perempuan yang terbuka, tekun, penyabar dan jujur.

Pendidikan dan Gender
Pendidikan merupakan salah satu soko guru pembangunan. Pendidikan menjadi aset yang sangat berharga bagi peningkatan kualitas kemajuan suatu bangsa. Pendidikan itu sangat terkait dengan penguasaan pengetahuan dan sekaligus aplikasinya. Sehingga pendidikan harus mendapat porsi perhatian yang lebih sebelum jauh memikirkan tentang kebangkitan suatu bangsa.
Pelaksanaan pendidikan sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dan tata nilai yang dianut oleh penduduk di suatu tempat. Di Indonesia, meski kesadaran untuk merengkuh pendidikan setinggi mungkin namun perbedaan gender masih mewarnai proses tersebut. Hal ini menjadi semakin runyam manakala terjadi pengerucutan bidang-bidang pendidikan yang dianggap lebih tinggi dari bidang pendidikan yang lain.

Tidak bisa dipungkiri bahwa laki-laki dan wanita itu memupunyai perbedaan yang sudah menjadi kodrat. Ada hal-hal yang bisa diperuntukkan bagi keduanya dan ada yang hanya untuk slaah satu pihak saja. Namun untuk bidang pendidikan, kedua gender tersebut tidak ada pembedaan.
Sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa anak perempuan tidak perlu menempuh pendidikan setinggi mungkin.Mereka dipersepsikan nantinya hanya akan menjadi ibu rumah tangga atau predikat lain yang mengharuskannya takluk di bawah tangan laki-laki. Disisi lain secara potensi fikriyah dan jasadiyah, wanita mempunyai kemampuan yang sebangding atau bahkan ada yang diatas rata-rata.
Fase-fase tumbuh kembang wanita itu lebih kompleks dibandingkan dengan laki-laki. Wanita pasti melewati fase kanak – kanak, pubertas, remaja, dewasa, menopause, dan fase penuaan. Wanita juga harus melewati fungsi jasadiyahnya seperti menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Tentunya fase yang kompleks tersebut telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Bijaksana untuk mendukung proses berjalannya roda kehidupan. Wanita secara psikologi lebih cepat dewasa daripada laki-laki namun mereka lebih sensitif (perasa). Fase-fase tersebut juga telah menempa para wanita untuk menjadi insan yang tangguh. Ketelatenan, kepedulian, kesabaran merupakan buah dari proses panjang nan menguras energi tersebut. Dan tidaklah mengherankan jika seorang ibu merupakan sekolah pertama bagi anak-anaknya.
Sekali lagi wanita seolah berada di second level dalam hal pendidikan dan juga mungkin dalam kehidupan sosial. Akibatnya, tidak mengejutkan jika jumlah penyandang buta huruf di Indonesia setidaknya 67% merupakan wanita. Di Jawa Timur sendiri tidak kurang dari 68% penyandang buta huruf disumbang oleh kaum wanita.
Dalam dunia pendidikan Indonesia juga masih terlekat stereotip bahwa anak yang mengambil dan menguasai bidang eksakta akan dinilai lebih pintar dan lebih jenius. Siswa yang mengambil bidang eksak lebih diutamakan daripada siswa yang mengambil bidang linguistik dan noneksakta. Siswa yang mahir dalam dunia MAFIA (Matematika, Fisika, dan Kimia) akan mendapat perlakuan yang lebih spesial daripada siswa yang berpretasi di dunia noneksakta. Tidak jarang para guru menyarankan siswanya untuk mengambil jurusan IPA bagi siswa yang mempunyai nilai-nilai yang bagus. Hal ini tidak berlaku ada jurusan IPS dan Bahasa. Padahal minat dan kemampuan masing-masing siswa jelas berbeda.
Secara umum, wanita dan laki-laki mempunyai minat dan cara belajar yang berbeda. Wanita mempunyai kecenderungan untuk mengusai bidang linguistik dan sosial. Sementara itu, laki-laki memang mempunyai tendensi untuk lebih mudah mneguasai bidang eksak. Hal ini juga memberi andil bahwa anggapan wanita berada di second level adalah benar adanya.

Pemerataan Kesempatan Pendidikan
Dalam permasalahan pendidikan yang terkait gender ini ada hal yang sangat perlu untuk diluruskan. Bahwa wanita dan laki-laki secara jasadiyah memang berbeda. Bahwa wanita dan laki-laki fungsinya adalah untuk saling melengkapi. Bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa dipukulratakan kepada dua kategori insan tersebut. Namun ada titik terang yang akan meluruskan permasalahan ini yaitu kesamaan kesempatan.
Tidak ada masalah jika wanita itu mempunyai kecenderungan di bidang lingustik daripada eksakta. Dan tidak ada masalah jika laki-laki berkecenderungan di bidang eksakta. Karena sesungguhnya segala ilmu di dunia ini tidak ada yang lebih tinggi tingkatannya daripada yang lainnya. Hal yang membedakan adalah tujuan dan pelaksanaan ilmu tersebut, apakah untuk kebaikan umat manusia? Ataukah malah mengancam kemanusiaan yang agung.
Sudah saatnya pemerataan kesempatan pendidikan bagi semua gender. Wanita tidak lagi berada di second level pendidikan. Laki-laki tidak diperlakukan berlebih dalam dunia pendidikan dibanding wanita.
Kesempatan yang sama yang diberikan kepada wanita bukan berarti akan mengancam nilai-nilai kodrati yang telah dilekatkan padanya. Bukan berarti mereka akan meninggalkan perannya sebagai ibu rumah tangga hanya karena mereka berpendidikan tinggi. Karena sesungguhnya dengan pendidikan, wanita dan juga laki-laki akan menjadi melek huruf, melek pengetahuan, dan melek karya. Hal inilah yang perlu dipahami oleh seluruh elemen masyarakat. Kesamarataan kesempatan pendidikan bagi semua gender akan membuka peluang bagi akselerasi kebangkitan bangsa karena SDM yang berkualitas secara kuantitas akan menjadi semakin banyak dan variatif. Sehingga bangsa ini akan mengatakan ”SIAP” jika ia diseru untuk sebuah kebangkitan.




BAB III
KESIMPULAN

Pendidikan yang bermutu membangun rasa percaya diri baik pada anak perempuan maupun lakilaki, dan membantu mereka mengembangkan potensi diri. Dalam masyarakat yang adil, anak perempuan maupun laki-laki memiliki hak yang sama, namun kadang-kadang hak-hak anak perempuan terhadap pelayanan pendidikan terabaikan. Padahal, pentingnya perempuan yang berpendikan dalam pembangunan masyakarat sudah tidak disangkal lagi.
Perempuan yang berpendidikan lebih mampu membuat keluarganya lebih sehat dan memberikan pendidikan yang lebih bermutu pada anaknya, Selain itu perempuan berpendidikan lebih memiliki peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Sebaliknya, perempuan yang pendidikannya kurang akan lebih rentan terhadap tindak kekerasan (fisik maupun non fisik), dan memiliki tingkat kesehatan dan ekonomi yang cenderung lebih rendah.
Seringkali secara tidak sengaja, guru membedakan murid perempuan dan laki-laki karena guru berpendapat bahwa murid perlu diperlakukan secara khusus menurut peran yang didasarkan pada jenis kelamin. Padahal asumsi tentang peran perempuan dan laki-laki yang dipegang oleh guru bisa mengakibatkan ketidakadilan dalam memberikan layanan pendidikan yang terbaik bagi murid laki dan perempuan. Tentu saja penting menghargai perbedaan antara anak perempuan dan laki, asal pembedaan itu tidak mengakibatkan pembatasan terhadap kesempatan anak perempuan maupun laki-laki dalam mengembangkan potensi mereka dan dalam memperoleh pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA
Wacana02 Mei 2009Bias Gender dalam Pendidikan

Muhammad Faiq Dzaki Pendidikan dan Gender , 03 Maret 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar